Ketika saya bangun dari tidur, lalu terusik dengan batuk yang tak terhenti, kepala yang berat dan masih berada di sini, di tempat yang sama. Saya terusik lagi dengan kepingan-kepingan yang ada di dalam kepala saya belakangan waktu ini. Banyak yang ingin saya tumpahkan, namun terkadang bingung kepada siapa, dan bagi saya banyak bicara terkadang membuat saya semakin tidak sadar bahwa saya sedang mengeluh di tengah hidup yang sudah begitu banyak dimudahkan ini.
Oke, langsung ke pokok permasalahan, akhir-akhir ini saya terusik dengan perkembangan berita di negeri ini, khususnya pemilihan presiden-wapres putaran pertama pada 8 Juli nanti. Ah, tapi rasanya saya tidak terlalu berkapasitas membahas detail tentang siapa yang lebih pantas mendapat peringkat RI1. Yang jelas, saya sudah cukup mengikuti kemana arah mereka membawa negeri ini. Dari mulai sisi ekonomi hingga jati diri bangsa ini. Lalu apa yang mengusik saya adalah, esensi dari maju-nya mereka ke tampuk kepemimpinan tertinggi.
Pemimpin adalah pemimpi,
Seperti salah satu judul buku. Tanpa melihat background pekerjaan, suku, agama, latar belakang pendidikan, keluarga dsb, hal yang menjadi penting bagi seorang pemimpin bagi saya adalah NIAT mereka. Ada begitu banyak motif bagi seseorang untuk menjadi pemimpin, kekuasaan, faktor politik, naluri manusia yang tidak gampang puas, self-center merasa dirinya yang paling baik, atau masih banyak lagi. Jika kita liat para CALON Pemimpin kita ini, apalagi sih yang mereka cari? Kekuasaan pernah mereka punyai,dari yang menjadi presiden-menteri-panglima-pemegang otoritas moneter, lalu masih belum puaskah mereka?. Seperti yang disebutkan di salah satu iklan, “mereka bekerja bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk mengabdi” (sorry kalo kurang tepat-tapi intinya gitu lah). Then kita lihat, apa benar semua calon pemimpin kita mempunyai itikad baik yang sangat normatif ini? Lagi-lagi bukan kapasitas saya untuk menilai.
Bagi saya, yaa..menjadi pemimpin benar-benar bukan perkara yang mudah. Tidak usah jauh-jauh jadi presiden, bahkan menjadi ketua kelas ataupun kelompok diskusi saja terkadang membuat kualahan. Tidak semua orang merasa berani jadi pemimpin, contoh aja pemilihan ketua kelas di kelas, pasti ada suara-suara nyebut nama si A lah si B lah,, dan ketika ada yang dari awal mencalonkan diri, dikira cari muka lah, ambisius lah, yaa..jadi serba salah bukan. Kadang tanpa sadar kita selalu mencari aman.
Kembali ke topik, begitu pula yang terjadi dengan pemilihan presiden. Terkadang saya heran dengan orang-orang yang kerjanya menghujat para capres, heii man, no body’s perfect! Bagi saya kekurangan yang ada dari para pemimpin bukan berarti menjadi excuse bagi kita sebagai warga negara untuk jadi apatis bahkan golput. Katanya kaum intelek, katanya kaum terpelajar, tapi menonton debat membuat sakit kepala, sedangkan “mantegin” infotainment dan acara musik bisa membuat ceria, kadang hal ini menjadi sangat miris.
Pemimpin kita tentu punya niat yang baik, tapi yang menjadi keistimewaan bagi kita adalah kita bisa memilih mana yang terbaik. Ada pendapat bahwa, semua calon pemimpin kita dalam keadaan sakit, tetapi jangan sampai kita memilih yang lumpuh. Apa benar seperti itu? Saya rasa pribahasa Gajah dipelupuk mata tak terlihat, semut diseberang lautan tampak jelas, menjadi sangat tepat. Kata-kata sakit menjadi sangat ironi dan hiperbola. Yang terpenting adalah bukan menemukan kekurangan mereka lalu menyebarkannya, kemudian bergumam seolah-olah kita adalah paling ahli dan paling tahu mana yang benar. Menjadi komentator memang tidak lebih melelahkan daripada pemain. Lebih baik, kita mencari mana karakter pemimpin yang memang sesuai dengan kita, mana yang kebijaknnya paling sesuai dengan diri kita, tentu dengan memperhatikan aspek-aspek logika, akal sehat dan kesejahteraan bersama. Seharusnya kita bersyukur masih bisa memilih. Coba kita bayangkan berada di posisi mereka. Kadang memimpin diri sendiri saja sudah sulit karena musuh terbesar dari kita adalah diri kita sendiri, dan para pemimpin adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya. Sulit memang menemukan yang betul-betul cocok tapi paling kita bisa mencari yang mendekati. Masa lalu memang pahit dan hampir semua calon dilihat dan disoroti masa lalunya, tetapi bukankah selalu ada kesempatan? Namun bukan berarti kesalahan yang sama dan terulang bisa ditolerir.
There’s NO EXCUSE sir!
Mungkin anda berpendapat, ya untuk itulah anda jadi pemimpin, untuk siap dikriktik, untuk siap sakit hati karena telah mati-matian bekerja tapi tidak dihargai sedikitpun. Ya, Anda tentu sangat berhak untuk itu. Namun, menjadi pemimpin pada dasarnya adalah sebuah amanah. Sudah menjadi fitrah kita sebagai warga negara untuk memilih pemimpin kita. Berbagai kebijakan ditawarkan secara gratis oleh para capres-cawapres kita, jangan ditolak mentah-mentah. Kita punya hak absolute untuk bertanya dan mencari tahu apa kandungan menu yang ditawarkan mereka. Lalu kita akan menjadi sangat mulia apabila benar-benar jadi memesan salah satunya. Jangan sampai menjadi kita konsumsi tanpa sadar, dan dalam 2 -3 tahun ke depan kita hanya bisa menggerutu karena sebelumnya kita sama sekali tak menghiraukannya. Pasti masih ada yang baik diantara yang buruk, masih ada setengah gelas terisi meskipun telah habis separuhnya, masih ada pemandangan indah diantara jurang yang curam dan tentu masih ada mimpi hebat diantara kenyataan yang tak begitu menyenangkan. Semoga kita bisa menjadi pemimpin bagi diri kita, untuk menurunkan ego merasa yang paling mengerti, melawan rasa bahwa kita tidak berkepentingan, dan mungkin mendorong diri kita untuk sedikit memasukkan kepingan keadaan bangsa ini di dalam agenda hidup kita. Bagaimanapun, satu suara kita akan tetap berarti bagi masa depan bangsa ini.
SELAMAT MEMILIH!!

