assalamualaikum..
welcome to my blog..
slamat datang di blog yg masih sangat amatir ini
smua yg ditulis disini hanyalah ungkapan perasaan anak manusia,, tidak ad unsur politis dari manapun. dan klo emang ada yang mnyinggung perasaan, mohon dimaapin aja ye..
10.8.09
inspired by cerita tetangga
terlalu peka dan menyakitkan
terlalu tak mau pergi dari alam pikiran
dan seakan selalu menertawakan
aku tak mau kalah
bukan berarti tak mengalah
dan akupun enggan menyerah
namun bukan sebuah pasrah
biarlah cahaya ini terhempas menjadi debu
biarlah denyut ini menjadi beku
asalkan waktu tetap berpihak padaku
kamu,kamu dan lagi-lagi kamu
sosok yang kini aku sandarkan
selain Tuhan dan kehidupan
namun seolah tak pernah menganggap adaku
menghempaskan semua hanya sekejap
oleh ego mu
izinkan aku sedikit berbicara
mengeluarkan suara yang terserak dari pangkalnya
semoga kau mendengar ini
alunan sendu yang meratap
yang perlahan tertutup kabut gelap keegoisan manusia
namun mungkin hanya berlalu dalam semu
kita adalah makhluk yang terlahir tanpa kesempurnaan
namun bukan artinya kita tak sanggup belajar
smoga ini hanya sebuah prasangka
smoga hanya sebuah ketidaktahuan
27.6.09
SEDIKIT TERUSIK UNTUK MENGUSIK
Ketika saya bangun dari tidur, lalu terusik dengan batuk yang tak terhenti, kepala yang berat dan masih berada di sini, di tempat yang sama. Saya terusik lagi dengan kepingan-kepingan yang ada di dalam kepala saya belakangan waktu ini. Banyak yang ingin saya tumpahkan, namun terkadang bingung kepada siapa, dan bagi saya banyak bicara terkadang membuat saya semakin tidak sadar bahwa saya sedang mengeluh di tengah hidup yang sudah begitu banyak dimudahkan ini.
Oke, langsung ke pokok permasalahan, akhir-akhir ini saya terusik dengan perkembangan berita di negeri ini, khususnya pemilihan presiden-wapres putaran pertama pada 8 Juli nanti. Ah, tapi rasanya saya tidak terlalu berkapasitas membahas detail tentang siapa yang lebih pantas mendapat peringkat RI1. Yang jelas, saya sudah cukup mengikuti kemana arah mereka membawa negeri ini. Dari mulai sisi ekonomi hingga jati diri bangsa ini. Lalu apa yang mengusik saya adalah, esensi dari maju-nya mereka ke tampuk kepemimpinan tertinggi.
Pemimpin adalah pemimpi,
Seperti salah satu judul buku. Tanpa melihat background pekerjaan, suku, agama, latar belakang pendidikan, keluarga dsb, hal yang menjadi penting bagi seorang pemimpin bagi saya adalah NIAT mereka. Ada begitu banyak motif bagi seseorang untuk menjadi pemimpin, kekuasaan, faktor politik, naluri manusia yang tidak gampang puas, self-center merasa dirinya yang paling baik, atau masih banyak lagi. Jika kita liat para CALON Pemimpin kita ini, apalagi sih yang mereka cari? Kekuasaan pernah mereka punyai,dari yang menjadi presiden-menteri-panglima-pemegang otoritas moneter, lalu masih belum puaskah mereka?. Seperti yang disebutkan di salah satu iklan, “mereka bekerja bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk mengabdi” (sorry kalo kurang tepat-tapi intinya gitu lah). Then kita lihat, apa benar semua calon pemimpin kita mempunyai itikad baik yang sangat normatif ini? Lagi-lagi bukan kapasitas saya untuk menilai.
Bagi saya, yaa..menjadi pemimpin benar-benar bukan perkara yang mudah. Tidak usah jauh-jauh jadi presiden, bahkan menjadi ketua kelas ataupun kelompok diskusi saja terkadang membuat kualahan. Tidak semua orang merasa berani jadi pemimpin, contoh aja pemilihan ketua kelas di kelas, pasti ada suara-suara nyebut nama si A lah si B lah,, dan ketika ada yang dari awal mencalonkan diri, dikira cari muka lah, ambisius lah, yaa..jadi serba salah bukan. Kadang tanpa sadar kita selalu mencari aman.
Kembali ke topik, begitu pula yang terjadi dengan pemilihan presiden. Terkadang saya heran dengan orang-orang yang kerjanya menghujat para capres, heii man, no body’s perfect! Bagi saya kekurangan yang ada dari para pemimpin bukan berarti menjadi excuse bagi kita sebagai warga negara untuk jadi apatis bahkan golput. Katanya kaum intelek, katanya kaum terpelajar, tapi menonton debat membuat sakit kepala, sedangkan “mantegin” infotainment dan acara musik bisa membuat ceria, kadang hal ini menjadi sangat miris.
Pemimpin kita tentu punya niat yang baik, tapi yang menjadi keistimewaan bagi kita adalah kita bisa memilih mana yang terbaik. Ada pendapat bahwa, semua calon pemimpin kita dalam keadaan sakit, tetapi jangan sampai kita memilih yang lumpuh. Apa benar seperti itu? Saya rasa pribahasa Gajah dipelupuk mata tak terlihat, semut diseberang lautan tampak jelas, menjadi sangat tepat. Kata-kata sakit menjadi sangat ironi dan hiperbola. Yang terpenting adalah bukan menemukan kekurangan mereka lalu menyebarkannya, kemudian bergumam seolah-olah kita adalah paling ahli dan paling tahu mana yang benar. Menjadi komentator memang tidak lebih melelahkan daripada pemain. Lebih baik, kita mencari mana karakter pemimpin yang memang sesuai dengan kita, mana yang kebijaknnya paling sesuai dengan diri kita, tentu dengan memperhatikan aspek-aspek logika, akal sehat dan kesejahteraan bersama. Seharusnya kita bersyukur masih bisa memilih. Coba kita bayangkan berada di posisi mereka. Kadang memimpin diri sendiri saja sudah sulit karena musuh terbesar dari kita adalah diri kita sendiri, dan para pemimpin adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya. Sulit memang menemukan yang betul-betul cocok tapi paling kita bisa mencari yang mendekati. Masa lalu memang pahit dan hampir semua calon dilihat dan disoroti masa lalunya, tetapi bukankah selalu ada kesempatan? Namun bukan berarti kesalahan yang sama dan terulang bisa ditolerir.
There’s NO EXCUSE sir!
Mungkin anda berpendapat, ya untuk itulah anda jadi pemimpin, untuk siap dikriktik, untuk siap sakit hati karena telah mati-matian bekerja tapi tidak dihargai sedikitpun. Ya, Anda tentu sangat berhak untuk itu. Namun, menjadi pemimpin pada dasarnya adalah sebuah amanah. Sudah menjadi fitrah kita sebagai warga negara untuk memilih pemimpin kita. Berbagai kebijakan ditawarkan secara gratis oleh para capres-cawapres kita, jangan ditolak mentah-mentah. Kita punya hak absolute untuk bertanya dan mencari tahu apa kandungan menu yang ditawarkan mereka. Lalu kita akan menjadi sangat mulia apabila benar-benar jadi memesan salah satunya. Jangan sampai menjadi kita konsumsi tanpa sadar, dan dalam 2 -3 tahun ke depan kita hanya bisa menggerutu karena sebelumnya kita sama sekali tak menghiraukannya. Pasti masih ada yang baik diantara yang buruk, masih ada setengah gelas terisi meskipun telah habis separuhnya, masih ada pemandangan indah diantara jurang yang curam dan tentu masih ada mimpi hebat diantara kenyataan yang tak begitu menyenangkan. Semoga kita bisa menjadi pemimpin bagi diri kita, untuk menurunkan ego merasa yang paling mengerti, melawan rasa bahwa kita tidak berkepentingan, dan mungkin mendorong diri kita untuk sedikit memasukkan kepingan keadaan bangsa ini di dalam agenda hidup kita. Bagaimanapun, satu suara kita akan tetap berarti bagi masa depan bangsa ini.
SELAMAT MEMILIH!!
14.6.09
I CREATE MY OWN REALITY *
* mengutip kata-kata dari Bang Pardamean Harahap dalam pelatihan Super Agent, BEM FEUI 2009
Yap..sudah sekian lama jemari ini tidak lagi menari untuk lebih produktif, menjadi implementasi antara pikiran,perasaan dan menyatukannya menjadi sebuah tulisan. Apakah sebab dari semuanya?kesibukan?rasa malas?padatnya jadwal?yaa..hidup adalah pilihan, mungkin menulis blog ini menjadi saya nomor sekian-kan.
Tentang judul posting kali ini, saya teringat betul materi training sabtu 13 juni 2009 di Student Center FEUI kemarin. Sang trainer berkata bahwa rasa senang,sedih,gembira,kecewa adalah diri kita sendiri yang membuatnya. Ketika kita gagal, kita sering kali menyalahkan(Blame) orang lain, kita sering kali meminta permaklmuman (excuse) dan kita sering kali menolak suatu tanggung jawab (denial). Sadar atau tidak, peran kita tidaklah kecil untuk itu dalam menjalankannya kita juga tidak boleh main-main.
Hingga hari ini, saya diamanahkan menjadi kepala sebuah departemen di sebuah organisasi eksekutif di kampus, saya merasa bahkan masih belum sepenuhnya punya tujuan yang jelas. Padahal sebagian besar arah departemen itu adalah saya yang menentukan. Jangankan untuk organisasi, mungkin tujuan hidup saya pun saya masih belum jelas.
I create my own reality, yaa, kata-kata ini begitu menginspirasi bagi saya. Saya lalu mulai mengumpulkan kepingan-kepingan pikiran saya, idealisme saya, dan tentunya harapan saya ke depan. Saya sadar betul, takdir kita memang sudah ditentukan oleh yang maha kuasa, tetapi sejauh mana kita berusaha mendapatkannya?! Kemudian saya mulai menyusun kembali rencana hidup saya yang mulai (bisa dikatakan) berantakan. Terkadang begitu banyak kesibukan membuat kita tidak fokus dan optimal, padahal sebagai seorang perempuan saya tahu saya diberi kelebihan multitasking.
Sekarang, saya sungguh ingin kembali "produktif". Bisa menulis disela-sela kegiatan saya, masih bisa menikmati indahnya kehidupan "anak kuliahan", organisasi bukanlah sebuah excuse bagi saya. Nilai mungkin menjadi naik-turun, tapi inilah sebuah konsekuensi. KEBERHASILAN bukan hanya sekedar IPK cumlaude, Kerja di Big Four, atau mendapatkan gaji setinggi-tingginya. Sudah cukuplah pelajaran di kelas menyempitkan paradigma saya tentang masa depan. Saya masih akan bertahan dengan semua ini. Saya masih mengagumi Soe hok gie dan orang-orang idealis lainnya. Mereka mungkin dianggap aneh, tapi mereka bisa menjadi legenda.
Di luar sana, gembar-gembor pilpres sedang marak. Anak muda diusik dengan momok "NeoLib". Di sisi lain, sekumpulan anak muda berkumpul di pusat hiburan, menikmati kesenangan dan menghabiskan uangnya. Ada juga yang dengan senantiasa peduli mengkampanyekan GO GREEN, menjadi relawan yang tak dibayar. Apa motif dari semuanya?Tiada yang salah ataupun benar. Semuanya adalah pilihan tiap-tiap individu yang memang sudah terlahir unik.
Lalu inilah jalan yang saya pilih
I Create my own reality
waktu istirahat saya mungkin berkurang
waktu bersenang-senang saya mungkin berkurang
tapi yang pasti
akan selalu ada waktu bagi saya untuk BELAJAR
Bukan hanya dibalik tebalnya buku kiesho-horngren, bukan hanya di dalam kelas, bukan hanya di balik meja perpustakaan.Namun disetiap waktu saya menikmati hidup ini. Saya akan selalu bermimpi, dan alam semesta akan berdoa agar Tuhan mengabulkan mimpi saya.
Masalah terus datang, Namun saya akan tetap berlari..
Masalah bukan penyebab menyerah
Saya sadar betul tugas ini tidak mudah, karena inilah sebuah amanah
19.1.09
Si Doel Nongol lagi..

Hikmah dibalik film
Si doel anak Sekolahan
Minggu, 18 Januari 2009, saya memutuskan untuk tidak kemana-mana, melakukan ritual hari minggu : diam di rumah yang diisi dengan online dan menonton TV. Kira-kira jam 1 siang, saya menyalakan televisi dan mencari acara yang bagus tanpa tentu arah. Setelah pencat-pencet
Ternyata setelah ditonton serial ini bukan episode sinetronnya, tetapi semacam FTV sebagai epilog pengantar serial ke Si doel 1-6. Cerita dalam tayangan ini menjelaskan awal gimana si doel (Rano Karno) bisa kuliah, kenal sama Sarah (Cornelia Agatha) hingga bisa menamatkan kuliahnya. Secara umum, tayangan si doel ini bisa saya komentarin : Sumpah Jadul banget, dari gambarnya, peralatan yang ada di tayangannya, baju-baju, dan computer si Sarah yang masih keliatan pake DOS. Hehehe,,dan saya beberapa kali tertawa terbahak-bahak karena tingkah lucu Babe Si Doel (Almarhum Benyamin S) dan Mandra.
Cerita diawali dengan gimana susahnya keluarga Doel membiayai kuliah sehingga Doel udah hopeless dan pesimis untuk bisa melanjutkan kuliahnya yang tinggal proses skripsi. Doel punya teman baik yang bernama Hans (seorang keturunan
Sekilas mungkin cerita Doel sangat sederhana, tapi menurut saya tidak se sederhana itu. Tayangan ini mengandung banyak unsur yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua.
1. Kebudayaan betawi yang patut dilestarikan,
Saya memang bukan orang betawi, tetapi sebagai orang yang beraktivitas sehari-hari di tanah betawi, saya turut merasakan bagaimana kebudayaan betawi sangat perlu untuk dipertahankan dan diwariskan. Si Doel mengisahkan bagaimana keluarga betawi berkegiatan dengan segala budayanya tapi dipandang sebelah mata oleh orang kaya dan modern seperti
2. Semangat untuk pantang menyerah
Bang Sabeni (Ayah Doel) hanyalah seorang supir opelet tua yang suka mogok. Namun keterbatasan ini tidak membuatnya menyerah untuk berusaha menyekolahkan Doel hingga tingkat kuliah dan menjadi tukang insinyur. Babe dengan segala kepolosannya sebagai orang betawi berusaha ikhlas menjalani hari yang berat untuk membiayai kuliah Doel. Begitu juga dengan Doel, meskipun hanya seorang anak tukang opelet, Doel gak pernah menyerah untuk belajar dengan giat disela-sela waktu untuk narik opelet.
3. Jangan pernah merasa lebih mulia hanya dengan harta dan kedudukan
Tokoh antagonis dalam tayangan ini menurut saya adalah
Ya, itu tadi hikmah yang saya dapatkan dari Film Si Doel Anak Sekolahan yang berdurasi kurang lebih 3 jam. Hal yang bisa saya ambil adalah bahwa hidup memang akan selalu bertemu masalah, tetapi manusia masih bisa berusaha, tentu dengan niat baik dan ketulusan, karena kedudukan dan harta tidak akan menjadi jaminan.
Wallahualam bissawab..
