9.9.10

"Va dove Ti porta il cuore"


Hujan rintik membasahi hari ini, usia 21 di kepalaku,seharusnya menambah muatan bijak dalam hariku

Diluar sana,, para kerabat mungkin sedang mudik,
sebagai tradisi kultural bercampur spiritual khas negeriku Indonesia


Ya, Mudik, Pulang, bisa kita maknai sebagai pulang ke tanah kelahiran , ke tempat asal kita

Hari-hari yang biasanya kita hadapi dengan hirukpikuk Ibu Kota, Pulang bagaikan sebuah jeda, bagai spasi pada kata. Terlihat tidak penting, namun dibutuhkan, untuk mencerna kata, Pulang pun dibutuhkan untuk makin menjelaskan arti kata hidup


Pulang,
Bukan hanya fisik ini yang menggapai kampung halaman,
tetapi pulang dengan hati, hati yang rindu akan asalnya, akan fitrahnya


Pulang,

Bahkan dipersiapkan dengan matang, untuk bisa membahagiakan keluarga tercinta, kerabat dekat yang selalu mendoakan. Ada yang fisiknya bisa kita temui, ada juga yang telah dengan damai beristirahat dan kembali ke alam.Ya, dengan pulang, kita bisa mensyukuri, betapa berarti mereka yang kita miliki, betapa Tuhan masih memberikan kita kesempatan mereguk damainya Ramadhan tahun ini, sambil berharap dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang mendatang.


Di hari raya ini, Pulang kita bisa maknai dengan kembali ke asal kita, ke fitrah kita sebagai manusia, yang sabdanya terlahir tanpa dosa. Jika untuk mudik kita membawa bekal untuk sanak saudara, maka dalam Pulang, kita telah membawa bekal amal kita selama ramadhan ini, setelah Nisyfu Sya’ban semua record kita telah “tutup buku”, maka di penghujung Ramadhan ini, layaklah kita buat Jurnal Pembalik kembali, untuk memulai semuanya dari awal, dalam lembar transaksi yang baru. dari Nol,, kembali suci


Pulang,

Berarti bersilaturahmi dengan kerabat, bisa kita maknai dengan menyambung kembali hubungan dengan kerabat, teman TK hingga rekan seperjuangan yang sampai detik ini telah mewarnai lembar hidup kita. Dengan Pulang, kita kembali tersadar, siapa kita sebenarnya, mereka yang sedikit banyak telah membentuk karakter kita, yang dengan sadar atau tidak semakin member hikmah dalam suratan takdir kita. Ya, Pulanglah dengan menyapa mereka dan menyadari siapa kita, bahwa tanpa mereka mungkin kita bukan siapa-siapa.


I'm going home,
Back to the place where I belong,
And where your love has always been enough for me.
I'm not running from.
No, I think you got me all wrong.
I don't regret this life I chose for me.
But these places and these faces are getting old
So I'm going home.
( Home- Sabrina)



Sejauh apapun kita berlari,
setegak apapun kita kuat berdiri,
Pulang akan menjadi panggilan hati, ke sudut tersempitpun engkau akan terusik, untuk kembali pulang

Maka pulanglah, kembali ke asal kita
Pada fitrah manusia,


"Va dove Ti porta il cuore"
(Pergilah ke mana Hati membawamu)





dan gema Takbirpun telah memanggil,
dengan segenap kerendahan hati, mengharap secercah maaf atas segala khilaf


‘Barangsiapa yang senang jika dilapangkan rizkinya atau diakhirkan ajalnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi’

(HR. Muslim dan HR Bukhari).



Untuk teman-teman yang mudik, selamat bersilaturhami bersama keluarga tercinta

Untuk teman-teman yang menjadi “penunggu” Ibu Kota, nikmatilah suasanya, jalan ibu kota yang lengang, hari-hari yang lebih mempunyai “jeda” dari biasanya..

Untuk yang berada jauh dari keluarga, semoga selalu dalam kekuatan doa dan cinta



Taqaballahu minna wa minkum
siyaamana wa siyaamakum

Smoga Ibadah kami dan anda smua diterima oleh Allah
Begitupula dengan puasa kami, dan puasa Anda smua

Minal aidin wal faidzin

Smoga kita termasuk yang disucikan dan smoga kita termasuk yang beruntung :)




Tangerang, 9 sept 2010

0 komentar: