
Ketika masyarakat mulai diributkan dengan gerakan anti kebohongan pemerintah, lantas saya justru berpikir sebaliknya, bagaimana diri dengan diri saya? Bagaimana dengan kebohongan yang pernah saya perbuat? Saya tidak memungkiri dan belagak suci bahwa saya tidak pernah berbohong, sekecil apapun manusia pasti pernah berbohong. Berbohong bagai cacat yang melekat pada teknologi, sebaik apapun manusia, pasti ada sisi dari dirinya yang tak bisa terhindar dari berbohong. Dan seperti teknologi pula, manusia perlu terus di upgrade Imannya.
Masuk kepada lingkup spesific, sebenarnya saya tergugah dengan salah satu adegan di sinetron Islam KTP, ketika si mamat menghina karyo yang berbuat baik memberi makan pengemis yang lapar. Saat itu mamat bilang bahwa karyo Cuma cari perhatian dan perbuatan karyo itu lebay. Ketika itu pula Bang Ali datang, dimana kurang lebih Bang Ali memperingatkan seperti ini “ lo yang lebay, lebay beragama lo, lebay tingkah laku lo, itu yang bedain lo ama dia. Dia naro Allah di hati,, tapi lo Cuma naro Allah di mulut”. Mendengar adegan ini, entah kenapa, saya langsung merinding. Mungkin benar apa yang dibilang Bang Ali di sinetron ini, selama ini “Dimana Kau Taruh Dia?” sekedar mengucap kalo kita percaya Allah SWT di mulut, tapi segala perbuatan dan tingkah kita belum mencerminkan apa yang kita yakini tersebut.
Bisakah ini kita katakan berbohong? Cuma masing-masing kita yang bisa menilai. Segala perbuatan kita dari kita lahir, sebenarnya untuk apa? Apa sebenarnya yang kita tuju?
Jangan-jangan selama ini kita dengan sombongnya mengklaim bahwa diri kita sudah beriman, padahal masih banyak yang kita tinggalkan, masih banyak hal yang belum kita prioritaskan..
Apa benar kita telah menaruh Allah SWT di hati kita? Sebenarnya dimana kau taruh Dia?
Untuk sama-sama kita renungkan..
0 komentar:
Post a Comment